Dari Remah Biskuit Hingga Goresan Pengakuan, Kisah Kasih Tanpa Pamrih Kader Desa Sentul

  • Jul 22, 2026
  • KIM MAYAPADA

Gambar oleh KIM MAYAPADA SENTULKIM MAYAPADA - Pagi itu Desa Sentul mengirimkan wakil-wakil terbaiknya. Para kader Posyandu Desa Sentul bersama anggota KIM Mayapada melangkah menuju Balai Kecamatan Sumbersuko dengan semangat yang sama: belajar, bersilaturahmi, dan menyaksikan sebuah gerakan besar bernama "Gerakan Posyandu Aktif Sumbersuko". Pendopo Kecamatan Sumbersuko menjadi saksi kisah di tanggal 22 Juli 2026 itu. 

Di sana, nama-nama kader dari berbagai desa disebut satu per satu. Bukan untuk disanjung secara berlebihan, tetapi untuk diingat. Untuk diakui. Karena di balik setiap menimbang bayi, di balik setiap catatan di buku KIA, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam, ada hati yang sabar merawat harapan.

Acara itu menjadi ruang apresiasi. Setiap kader dari masing-masing desa yang berprestasi menerima sertifikat dan pin penghargaan. Sebuah tanda kecil, namun maknanya besar. Tak lupa juga memberikan penghargaan luar biasa kepada kader-kader yang telah lama mengabdi, yang tetap setia melayani masyarakat meski waktu terus berjalan dan tantangan silih berganti.

Dan di tengah deretan nama itu, Desa Sentul turut berbangga. Salah satu putri terbaiknya dipanggil ke depan. Ibu Endrayani, kader Posyandu Dusun Krajan. Nama yang sudah 21 tahun melekat di hati warga. Dua puluh satu tahun bukan waktu yang sebentar. Dua puluh satu tahun adalah masa ketika seorang gadis kemudian menjadi ibu, ketika langkah kecil bayi yang dulu ditimbang kini sudah berlari mengejar dunia dan mimpinya. 

Saat itu, tahun 2005, Desa Sentul belum memiliki fasilitas Posyandu yang merata. Hanya ada dua titik layanan, di Dusun Krajan dan Dusun Wangkit. Kadernya hanya sebelas orang. Fasilitas terbatas, tapi semangat tidak pernah terbatas.

"Saya mulai ini semua sejak tahun 2005. Saat itu Posyandu belum ada dana dari pemerintah. Tidak ada PMT seperti sekarang ini. Peserta yang hadir hanya mendapat beberapa buah biskuit dan itupun Ibu bidan yang menyediakan," kenangnya sambil tersenyum kepada Mas Maul, anggota KIM Mayapada yang duduk di liputan. Tawa kecilnya menyelip di antara cerita, seolah ingin mengatakan bahwa lelah itu nyata, tapi tidak pernah cukup untuk menghentikan langkah.

Mas Hary, Ketua KIM Mayapada, serta ikut serta dengan suara bergetar bangga. Bercengkrama dan dengan penuh perhatian mendengarkan kisah indah yang diukir dengan sebuah asa. Dilewati dengan ikhlas dan menghadap dengan senyum yang terus berbuah harap. 

"Mbak Eni ini sudah mengabdi di Posyandu sejak zaman pemerintahan Pak Rustam. Saat itu tidak ada kehormatan atau gaji bagi kader Posyandu. Mereka para kader hanya mengabdikan diri dengan keikhlasan yang tidak ada bandingannya."

Mbak Eni, begitu ia akrab disapa, mengangguk pelan. Ia bercerita bahwa pengabdiannya dimulai jauh sebelum ia menikah. Hingga hari ini, ia sudah menjadi rumah tangga dan memiliki anak. Namun hatinya tetap di Posyandu. Bahkan selama sepuluh tahun ia juga mengabdi di Polindes Sentul, membantu Ibu Bidan melayani warga yang sakit, yang hamil, yang membutuhkan uluran tangan di tengah malam.

Tidak ada fasilitas lengkap, tidak ada gaji, tidak ada dana. Yang ada hanyalah kesabaran yang dilatih setiap hari. Yang ada hanyalah keikhlasan yang tidak pernah menuntut balasan.  

Laut memang bertepi, tapi buihnya tidak pernah surut. Begitulah ibarat pengabdian Mbak Eni. Ombaknya boleh besar, anginnya boleh kencang, tapi tetap berteguh dengan sampan kecilnya, berteguh menjaga, berteguh melayani.

Hari itu, ketika namanya disebut dan pin ditancapkan di dada, tidak ada isak tangis. Yang ada hanya mata berkaca-kaca dan tepuk tangan panjang dari sesama kader. Karena mereka tahu, penghargaan itu bukan untuk satu orang. Penghargaan itu untuk sebelas kader pertama, untuk semua kader yang datang membawa timbangan dan buku dari rumah ke rumah, untuk semua ibu yang rela meninggalkan pekerjaan demi menimbang anak tetangga.

Kisah Mbak Eni adalah cermin. Cermin bahwa pengabdian tidak selalu diukur dengan uang. Cermin bahwa melayani adalah cara paling sunyi untuk mencintai kampung halaman.  

Dari Desa Sentul, dari Dusun Krajan yang sederhana, lahir sebuah keteladanan. Bahwa selama masih ada orang yang mau mengabdi tanpa pamrih, maka desa ini akan terus sehat, anak-anaknya akan terus tumbuh, dan harapan akan terus hidup.

Dan kisah ini, semoga menjadi inspirasi bagi kita semua. Untuk terus hadir, terus peduli, dan terus percaya bahwa kebaikan sekecil apapun, jika dilakukan dengan hati, akan menjadi sungai yang menghidupi banyak orang.