Cahaya Kasih di Langit Dusun Kembang, Santunan Anak Yatim Piatu, Dhuafa dan Pengajian Umum
- Jul 12, 2026
- HARY
KIM MAYAPADA - Di bawah langit malam Sentul yang bertabur doa, Dusun Kembang kembali dipenuhi cahaya. Bukan cahaya lampu semata, melainkan cahaya kasih yang turun perlahan, menghangatkan setiap dada yang hadir di halaman Mushola Baitul Amin.
Malam itu, Minggu 12 Juli 2026, menjadi saksi bisu pertemuan antara hati-hati yang saling menguatkan. 14 anak yatim piatu dengan mata penuh harap, dan 6 orang dhuafa lansia dengan langkah renta namun wajah berseri, duduk bersanding. Mereka bukan sekadar menerima. Mereka dipeluk oleh kepedulian, diselimuti oleh kehangatan, dan diingatkan bahwa mereka tidak pernah sendiri.
Acara mulia ini terselenggara atas inisiatif Majelis Sholawat Al-Abror bersama warga RT 09 Dusun Kembang. Sudah enam tahun berturut-turut, tradisi kebaikan ini dijaga. Enam tahun menebar benih cinta, enam tahun menyiramnya dengan keikhlasan.
Rangkaian acara dibuka dengan lantunan doa dan sambutan. Suara pertama datang dari panitia, yang mewakili lelah dan harapan. Kemudian disusul sambutan dari perwakilan Pemerintah Desa Sentul, dan ditutup oleh untaian nasihat dari tokoh agama setempat. Setiap kata yang terucap seolah menjadi pengingat bahwa hidup ini indah ketika kita saling menopang.
Mas Ikhwan, selaku panitia, dengan suara bergetar menyampaikan kabar gembira. "Alhamdulillah, amanah yang dititipkan para dermawan telah terkumpul. Dana ini adalah titipan cinta dari warga RW 09, Desa Sentul, hingga Desa Purwosono. Total dana yang terkumpul sebesar Rp. 14.310.000."
Angka itu bukan sekadar nominal. Di dalamnya ada keringat, ada sedekah, ada doa-doa yang dipanjatkan diam-diam oleh para donatur.
Kehadiran pemerintah pun memberi warna tersendiri. Mas Hary selaku Kaur Kesra yang mewakili Pemerintah Desa Sentul, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. "Kami mendukung penuh setiap langkah kebaikan. Majelis Al-Abror dan warga RW 09 telah menjadi contoh nyata bahwa agama dan sosial bisa berjalan beriringan, membangun desa dengan hati."
Tangis haru sempat pecah saat penyaluran santunan. 6 orang dhuafa lansia menerima santunan masing-masing Rp. 600.000 sebagai bentuk penghormatan atas usia dan perjuangan hidup mereka. Sisanya, dibagikan dengan penuh kasih kepada 14 anak yatim piatu. Uang itu mungkin sederhana, tapi pelukan dan doa yang menyertainya jauh lebih mahal dari apapun.
Di tengah suasana yang khidmat, Ustadz Sukambar menuturkan kisah. Beliau mengajak hadirin mengingat kembali jejak perjuangan berdirinya Mushola Baitul Amin. Tempat inilah, selama enam tahun, menjadi rumah bagi air mata syukur, tempat berbagi rezeki, dan tempat tumbuhnya iman.
Puncak malam ditutup dengan Pengajian Umum. Ustadz Uce Saepul Rohim hadir membawa siraman rohani. Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan tentang kemuliaan menyayangi anak yatim dan memuliakan para orang tua. Serta pentingnya memberikan sebagian harta kita kepada yang lebih membutuhkan.
Langit Dusun Kembang malam itu terasa berbeda. Bintang-bintang seolah ikut bersalawat. Doa bersama menutup acara, meninggalkan jejak tenang di hati setiap orang yang pulang.
Karena pada akhirnya, santunan bukan hanya tentang memberi. Ia tentang mengingatkan kita, bahwa dalam berbagi, kita justru menerima. Menerima cinta, menerima berkah, dan menerima makna hidup yang sesungguhnya.