Bukan Hujan yang Mengganggu Tapi Langit yang Ikut Memeluk, La Tahzan 3 Menandai Hari yang Akan Terus Diingat. 

  • Jun 19, 2026
  • HARY

Pelepasan siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah adalah pintu yang dibuka pelan-pelan setelah enam tahun ditempa. Ia bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang. Di titik inilah anak-anak yang dulu datang dengan huruf terpatah-patah kini dilepas dengan bekal ilmu, akhlak, dan doa. Ada air mata guru yang diam-diam diseka, ada senyum orang tua yang tak bisa disembunyikan. Karena sejatinya, madrasah tak pernah meluluskan murid, ia hanya menitipkan anak-anaknya pada dunia.

Jumat malam, 19 Juni 2026, tepat pukul 18.30 WIB, langit Sentul menunduk khidmat. “La Tahzan 3” digelar. Sebuah malam pelepasan siswa-siswi kelas 6 sekaligus pentas seni kreasi siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Sentul yang akrab disebut Madrasah Surga. Tahun ini mereka mengangkat tema “Ingatlah Hari Ini”. Dua kata yang sederhana, tapi menusuk kalbu. Ingatlah hari ini. Ingat tawa di kelas, ingat marah yang mendidik, ingat tangan guru yang tak lelah menuntun.

Malam itu terasa lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya panggung megah dengan videotron berdiri di halaman madrasah sendiri, kali ini semesta memberi ruang lebih luas: lapangan depan pabrik PT. Karunia Alam Indokayu di tepi Jalan Raya Nasional Mahemeru disulap menjadi panggung cahaya. Videotron raksasa tetap setia menjadi saksi, menayangkan jejak-jejak kecil yang menjelma kenangan besar.

Acara berjalan dalam khidmat yang basah. Rintik gerimis turun perlahan, bukan mengganggu, melainkan ikut bertasbih. Seakan langit tahu, malam itu adalah muara dari enam tahun perjuangan. Ada sedih yang tak bisa ditahan, ada bahagia yang tak bisa disembunyikan. Suka dan duka yang dulu terasa panjang, malam itu tiba-tiba terasa singkat. Di pelupuk mata guru, terbayang sabar yang dirajut setiap hari. Di dada siswa, bergemuruh terima kasih yang tak sempat terucap.

Panggung kemudian hidup. Pentas seni mengalir tanpa jeda. Kreasi tari modern berpelukan mesra dengan gerak tradisional, panggung komedi mengundang gelak yang pecah lalu hening oleh haru, dan layar videotron menumpahkan video dokumentasi: dari iqra pertama yang terbata, hafalan yang jatuh bangun, hingga piala yang tak disangka. Inilah Madrasah Surga. Tempat di mana kualitas tak hanya diukur dari nilai, tapi dari keberanian anak untuk bermimpi dan mencipta. Di sini, kreativitas siswa tak pernah dikurung tembok. Mereka diajari bahwa surga bisa diraih lewat ilmu, seni, dan akhlak.

Sambutan-sambutan dari para tamu undangan menambah hangat malam itu. Kata demi kata menjadi penguat, menjadi restu. Sementara itu, lapangan dan tepi jalan raya penuh sesak. Warga tumpah ruah, berdiri, duduk lesehan, mengabadikan momen dengan ponsel dan mata berkaca. Di antara kerumunan, Banser Desa Sentul berdiri tegap. Diam, tapi menjaga. Sunyi, tapi memastikan sakralnya acara tetap terjaga hingga penutup doa.

Di tengah gemuruh tepuk tangan, Ustad Alfian Ishaq selaku kepala MI Miftahul Ulum Sentul berdiri di panggung. Suaranya bergetar, tapi tegas. “Perjalanan hidup tidak akan mudah. Kalian akan bertemu dengan badai-badai ujian hidup. Hidup harus diperjuangkan, melewati hujan badai dan tidak menggigil hanya karena gerimis kecil. Hendaklah hati diisi dengan keimanan untuk menghadapi kehidupan ini.” Pesan itu menancap. Karena beliau tahu, guru-guru Madrasah Surga telah menanam kesabaran sebesar gunung. Setiap hari mereka memilih bertahan, memilih mendidik dengan cinta ketika lelah datang bertubi. Dan hasilnya nyata: siswa-siswi yang berani, santun, dan kreatif.

Malam semakin syahdu ketika gamelan Langgam Surga ditabuh oleh siswa-siswi madrasah. Alunannya sudah tak asing di telinga banyak orang. Denting saron, kendang, dan gong berpadu dengan rintik yang tersisa, menciptakan harmoni yang membuat bulu kuduk berdiri. Inilah bukti, madrasah di desa pun bisa melahirkan karya yang mendunia.

Bagi yang jauh, panitia menyiapkan siaran langsung. Layar gawai menjadi jembatan. Alumni di perantauan, wali murid yang bertugas, semua bisa ikut meneteskan air mata dari jarak ratusan kilometer. Karena kemegahan Madrasah Surga memang untuk semua.

Sebelum tirai ditutup, satu pesan terakhir terucap, pelan tapi dalam: Jangan dilupa, tapi datanglah kembali dengan cerita-cerita barumu. Karena kita adalah cinta yang seharusnya tidak akan pernah pudar.

Gerimis telah reda. Tapi malam itu akan hidup lama di ingatan. La Tahzan 3 bukan sekadar perpisahan. Ia adalah pengingat bahwa dari madrasah sederhana di pinggir jalan nasional, lahir generasi yang siap menantang badai. Ingatlah hari ini, anak-anak Surga. Langitmu masih sangat luas.